Senin, 08 Februari 2010

Identivikasi Pembelajaran Matematika di SD Inklusi

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Setiap anak merupakan sumber daya insani bagi pembangunan nasional karena itu pembinaan dan pembangunannya dimulai sedini mungkin agar dapat berpartisipasi sevara optinal bagi pembangunan bangsa dan negara. Anak adalah ,masa depan suatu bangsa maka anak perlu kita rawat, asuh sebaik-baiknya, dijamin kesejahteraannya, pendidikannya, dan diberikan perlindungan seluas-luasnya.
Pendidikan adalah hak seluruh warga negara tanpa membedakan asal-usul, status sosial ekonomi, maupun keadaan fisik seseorang, termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, hak anak untuk memperoleh pendidikan dijamin penuh tanpa adanya diskriminasi termasuk anak-anak yang mempunyai kelainan atau anak yang berkebutuhan khusus.
Pendidikan Inklusi merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Salah satu jenis ABK pada sekolah inklusi adalah siswa slow learner. Pada proses pembelajaran siswa slow learner belajar bersama dengan siswa normal sebayanya di sekolah. Hal ini bertujuan agar siswa slow learner dapat bergaul dengan siswa normal dari pada bersekolah di SLB. Karena apabila siswa bersekolah di SLB, kemungkinan ia akan merasa minder, tersisih, dan kurang percaya diri. Dengan demikian adanya sekolah Inklusi ini diharapkan siswa ABK dapat menghilangkan rasa rendah diri serta mampu mengembangkan potensi dirinya bersama siswa normal.
Hidup dengan kekurangan bukan berarti tidak berkesempatan untuk maju. Bagi anak-anak slow learner, bersaing secara akademik dengan anak normal pada kenyataanya merupakan hal yang sangat sulit. Mereka harus dilatih khusus agar dapat mengikuti proses belajar di sekolah umum. Kebanyakan masyarakat menganggap dua kata tersebut identik dengan idiot atau keterbelakangan mental. Padahal slow learner adalah anak normal yang IQ-nya antara 70-85. Kebanyakan anak slow learner mengalami kesulitan belajar, sehingga butuh sekolah khusus yang fokus menanganinya.Anak dengan bawaan slow learner memiliki ciri fisik normal. Tapi saat di sekolah, mereka sulit menangkap materi, responnya lambat, dan kosa kata juga kurang. Sehingga, saat diajak berbicara, kurang jelas maksudnya atau sulit nyambung. Bila dipaksa dan ditekan untuk belajar, mereka akan menjadi putus asa. Anak slow learner lebih mudah diajari keterampilan bekerja daripada menghafal materi sekolah. Dalam hal akademik, anak slow learner memang punya kekurangan. Tapi untuk bersosialisasi mereka sama dengan anak normal.
Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan atau ilmu pasti berupa angka-angka yang berbentuk sebagai hasil pemikiran manusia. Hal ini membuat siswa mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Apalagi bagi siswa slow learner yang daya tanggap mereka yang sangat rendah. Pada proses pembelajaran matematika di SD Siyono yang siswanya terdiri atas anak normal dan anak berkebutuhan khusus. Secara umum siswa slow learner juga memiliki ketuntasan belajar yang rendah, baik pada siswa normal maupun siswa berkebutuhan khusus. Khusus bagi siswa slow learner, keterbatasan yang mereka memiliki berdampak pada kegagalan mereka mengikuti irama pembelajaran di kelas. Kemampuan yang dimiliki oleh siswa normal dengan anak kebutuhan khusus sangat berbeda-beda dalam belajar. Disamping itu, anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan keahlian tersendiri yaitu guru pembimbing khusus yang merupakan patner guru dan guru kelas supaya anak berkebutuhan khusus berkembang optimal.
Bertolak dari latar belakang yang diungkapkan di atas penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh tentang proses pembelajaran matematika di SD Inklusi, sehingga peneliti mengadakan penelitian tentang “Identifikasi Proses Pembelajaran Matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner kelas III SD Negeri Siyono 1 Gunung Kidul Tahun Ajaran 2008/2009”.

B. Identifikasi Masalah
Pembelajaran yang kondusif dapat menimbulkan suasana dalam kelas yang nyaman. Siswa aktif dalam mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru. Karena siswa membutuhkan guru untuk menentukan keberhasilan dari proses belajar mengajar.
Proses pembelajaran matematika di SD inklusi, guru masih menerapkan model pembelajaran konvensional sedangkan siswa sebagai penerima pasif dari materi yang disampaikan guru. Siswa juga kurang proaktif bertanya walaupun belum mengerti, sehingga ketika diminta mengerjakan soal, banyak yang mengalami kesulitan. Selain itu, selama pembelajaran berlangsung, minat dan gairah belajar siswa kurang nampak.
Guru kelas cenderung mengajar sesuai dengan kemampuan siswa normal karena jumlah mereka yang relatif lebih banyak dibanding siswa berkebutuhan khusus. Siswa slow learner, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, terpaksa harus mengikuti irama pembelajaran di kelas. Keterbatasan pada siswa slow learner mengakibatkan mereka sulit mengimbangi kecepatan belajar siswa yang lain.
Tanpa adanya layanan pendidikan khusus, potensi anak tidak dapat berkembang optimal. Memasukkan ABK ke sekolah reguler tanpa layanan pendidikan khusus dapat menyebabkan anak menjadi rendah diri, frustasi. Anak memerlukan keduanya, agar terhindar dari rasa rendah diri dan memperoleh pengalaman hidup yang bermakna bersama anak lain pada umumnya sebagai latihan memasuki kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.
Layanan pendidikan khusus sangat diperlukan di sekolah reguler dan pengalaman untuk bergaul dengan anak-anak lain pada umumnya sangat diperlukan di sekolah inklusi agar semua anak, berkelainan maupun tidak, memiliki pengalaman untuk melakukan penyesuaian sosial. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang “Identifikasi Proses Pembelajaran Matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner kelas III SD Negeri Siyono Gunung Kidul Tahun Ajaran 2008/2009” .

C. Batasan Masalah
Dalam penulisan penelitian ini membatasi tentang proses pembelajaran matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner kelas III SD Negeri Siyono 1 Gunung Kidul Tahun Ajaran 2008/2009.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana proses pembelajaran matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner kelas III SD Negeri Siyono 1 Gunung Kidul Tahun Ajaran 2008/2009.

E. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui proses pembelajaran matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner kelas III SD Negeri Siyono 1 Gunung Kidul Tahun Ajaran 2008/2009.

F. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru, sebagai tambahan pengetahuan, wawasan dan bahan masukan untuk meningkatkan pemahaman pembelajaran matematika di Sekolah inklusi.
2. Bagi sekolah, sebagai bahan dalam refleksi pelaksanaan pembelajaran matematika di SD inklusi untuk mengambil langkah-langkah pengembangan sehingga diperoleh langkah yang cepat.
3. Bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengadakan penelitian lanjutan yang berhubungan dengan hal-hal yang belum terjangkau dalam penelitian.
4. Bagi pembaca, sebagai bahan masukan dan informasi calon guru untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan.
Read More..
BAB II
LANDASAN TEORI


A. Kajian Teori
1. Pendidikan Inklusi
a. Konsep Pendidikan Inklusi
Istilah terbaru yang dipergunakan untuk mendeskripsikan penyatuan bagi anak-anak berkelainan (penyandang hambatan atau cacat) ke dalam program-program sekolah adalah inklusi (dari kata bahasa Inggris: inclusion-penyamaan). Bagi sebagian besar pendidik, istilah ini dilihat sebagai deskripsi yang lebih positif dalam usaha-usaha menyatukan anak-anak yang memiliki hambatan dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh (Smith, 2006: 45).
Pendidikan inklusi secara formal ditegaskan dalam pernyataan Salamanca pada konferesi Dunia tentang Pendidikan Berkelainan bulan Juni 1994 bahwa “Prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama mungkin, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan atau perbedaan yang mungkin ada pada mereka”. Jadi Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang belum banyak disosialisasikan apalagi tentang bentuk Pelaksanaan dan Sistem Pendidikan tersebut, karena merupakan hal baru.
Pendidikan Inklusi sebenarnya merupakan model Penyelenggaraan Program Pendidikan bagi anak berkelainan atau cacat dimana penyelenggaraannya dipadukan bersama anak normal dan tempatnya di sekolah umum http://www.slbn-cileunyi.sch.id/200805-0123/mengenal-pendidikan-inklusi-1/2.html, diambil pada 25 Januari 2009.
Pendidikan Inklusi adalah pendidikan inklusi didasarkan pada hak asasi dan model sosial, sistem yang harus disesuaikan dengan anak, bukan anak yang menyesuaikan dengan sistem. Pendidikan Inklusi dapat dipandang sebagai pengerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, pendidikan, keberagaman dan diskriminasi, proses partisipasi dan sumber-sumber yang tersedia (sue stubbs, 2002, diambil dari:http://www.eenet.org.uk/, diambil pada 12 November 2008). Oleh karena itu, ditekankan adanya restrukturisasi sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, artinya kaya dalam sumber belajar dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah.
b. Landasan pendidikan Inklusi
Penerapan pendidikan Inklusi mempunyai 4 landasan yaitu:
1) Landasan filosofis
a) Setiap anak mempunyai hak mendasar untuk memperoleh pendidikan.
b) Setiap anak mempunyai potensi, karakteristik, minat, kemampuan dan kebutuhan belajar yang berbeda.
c) Sistem pendidikan seyogyanya dirancang dan dilaksanakan dengan memperhatikan keanekaragaman karakteristik dan kebutuhan anak.
d) Anak berkebutuhan khusus mempunyai hak untuk memperoleh akses pendidikan di sekolah umum,
e) Sekolah umum dengan orientasi inklusi merupakan media untuk menghilangkan sikap diskriminasi, menciptakan masyarakat yang ramah, membangun masyarakat yang inklusif dan mencapai pendidikan bagi semua.
2) Landasan Yuridis
a) Undang Undang Dasar 1945, ps 31 (1) dan (2)
b) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002, tentang perlindungan anak, ps 51.
c) Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional : ps 3, ps 4 (1), ps 5 (1) (2) (3) (4), ps 11 (1), ps 12 (1.b).
d) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang penyandang cacat.
e) Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas No. 380/G.06/MN/2003 tanggal 20 Januari 2003 tentang pendidikan inklusif.
3) Landasan Empiris
a) Deklarasi Hak Asasi Manusia (1948), Declaration of Human Rights,
b) Konvensi Hak Anak, (1989), Convention on the Rights of the child,
c) Konferensi Dunia (1990), tentang Pendidikan untuk Semua, (World Conference on education for all),
d) Resolusi PBB nomor 48/96 tahun 1993 tentang Persamaan Kesempatan bagi Orang Berkelainan (the standard rules on the equalization of opportunities for person with disabilities),
e) Pernyataan Salamanca (1994), tentang Pendidikan Inklusif,
f) Komitmen Dakar (2000) mengenai Pendidikan untuk Semua,
g) Deklarasi Bandung (2004) dengan komitmen “Indonesia menuju pendidikan inklusif”,
h) Rekomendasi Bukit Tinggi (2005), tentang meningkatkan kualitas sistem pendidikan yang ramah bagi semua.
4) Landasan Pedagogis
Pada pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Tujuan ini mustahil tercapai jika sejak awal mereka dipisahkan dari teman sebayanya di sekolah-sekolah khusus.
c. Karakterisrik Pendidikan Inklusi
Pendidikan inklusi memberikan hak untuk belajar pada semua anak, tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa, atau kondisi lainnya. Hal ini memberi tantangan pada guru untuk mengetahui bagaimana cara mengajar anak dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam. Dalam pendidikan inklusif juga berupaya untuk memberi perlindungan pada semua anak. Anak akan merasa aman belajar didalam kelas walaupun “berbeda” dari segi fisik, sosial, intelektual, dan emosi peserta didik lainnya.
Pembelajaran dilaksanakan secara fleksibel dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing anak sebagai peserta didik. Pembelajaran dalam kelas ramah dan kondusif sehingga anak menjadi lebih bersemangat dalam belajar. Selain itu pembelajaran diberikan dengan menggunakan berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran. Kemudian penilaian dilakukan berdasarkan observasi terhadap kemamupan anak. (Depdiknas 2004) dalam Aldjon Dapa (2007:151) telah merumuskan perbedaan karakteristik pendidikan inklusif dengan kelas reguler, dalam tabel berikut ini :


Tabel 1. Perbedaan karakteristik pendidikan inklusif dengan kelas reguler

Kelas Tradisional
Kelas inklusif, ramah terhadap pembelajaran
Hubungan
Terdapat hubungan jarak dengan peserta didik, Contoh : guru sering memanggil peserta didik tanpa kontak mata
Ramah dan hangat, contoh untuk anak tunarunggu : guru selalu berada didekatnya dengan wajah terarah pada anak dan tersenyum. Pendamping kelas (orang tua) memuji anak tunarunggu dan membantu anak lainnya.
kemampuan
Guru dan peserta didik memiliki kemampuan yang relatif sama
Guru, peserta didik deengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda sertaorang tua sebagai pendamping.
Pengaturan tempat duduk
Pengaturan tempat duduk yang sama di tiap kelas (semua anak duduk di meja berbaris dengan arah yang sama)
Pengaturan tempat duduk yang bervariasi seperti duduk berkelompok di lantai membentuk lingkaran atau duduk di bangku bersama-sama sehingga mereka dapat melihat satu sama lain.
Materi belajar
Buku teks, buku latihan, papan tulis
Berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran, Contoh : Pembelajaran matematika disampaikan melalui kegiatan yang lebih menantang, menarik, dan menyenangkan melalui bermain peran menggunakan poster dan wayang untuk pelajaran bahasa.
Sumber
Guru membelajarkan anak tanpa menggunakan sumber belajar yang lain.
Guru menyusun rencana harian dengan melibatkan anak. Contoh : Meminta anak membawa media belajar yang murah dan mudah didapat kedalam kelas untuk dimanfaatkan dalam mata pelajaran tertentu.
Evaluasi
Ujian tertulis terstandardisasi.
Penilaian : observasi, portofolio, yakni karya anak dalam kurun waktu tertentu dikumpulkan dan dinilai.

Pendidikan inklusif meningkatkan hubungan antara guru dan peseta didik, antara guru dan orang tua, serta hubungan antara orang tua dan peserta didik. Metode pembelajaran dilakukan secara bervariasi sehingga anak merasa termotivasi untuk belajar. Materi pelajaran disampaikan lebih menarik dan menyenangkan sehingga anak dapat menyerap materi pelajaran yang diberikan. Dan evaluasi dilakukan berdasarkan penilaian secara berbeda sesuai dengan perkembangan kemampuan masing-masing anak sebagai peserta didik.
d. Prinsip-prinsip penyelenggaran
1) Prinsip pemerataan dan penyelenggaraan mutu.
Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menyusun strategi upaya pemerataan kesempatan memperoleh layanan pendidikan dan peningkatan mutu. Pendidikan inklusif merupakan salah satu strategi upaya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan, karena lembaga pendidikan inklusi bisa menampung semua anak yang belum terjangkau oleh layanan pendidikan lainnya. Pendidikan inklusif juga merupakan strategi peningkatan mutu, karena model pembelajaran inklusif menggunakan metodologi pembelajaran berfariasi yang bisa menyentuh pada semua anak dan menghargai perbedaan.
2) Prinsip kebutuhan individual
Setiap anak memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda-beda, oleh karena itu pendidikan harus diusahakan untuk menyesuaikan dengan kondisi anak.
3) Prinsip kebermakanaan
Pendidikan inklusif harus menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang ramah, menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan.
4) Prinsip berkelanjutan
Pendidikan inklusif diselenggarakan secara berkelanjutan pada semua jenjang pendidikan.
5) Prinsip keterlibatan
Penyelenggaraan pendidikan inklusif harus melibatkan seluruh komponen pendidikan terkait.
6) Prinsip Khusus pada Anak Lambat Belajar (Slow Learner)
Anak lambat belajar adalah anak yang mengalami kelainan/penyimpangan dalam segi intelektual (intelegensi), yakni intelegensinya di bawah rata-rata anak seusianya (di bawah normal). Akibatnya, dalam tugas-tugas akademik yang menggunakan intelektual mereka sering mengalami kesulitan. Oleh karena itu, kadang-kadang guru merasa jengkel karena diberi tugas yang menurut perkiraan guru sangat mudah sekalipun, mereka tetap saja kesulitan dalam menyelesaikannya.

e. Tujuan
1) Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua anak (termasuk anak berkebutuhan khusus) untuk memperoleh pendidikan yang layak sesuai dengan kondisi anak.
2) Mempercepat penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar.
3) Meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah dengan menekan angka tinggal kelas dan putus sekolah.
4) Menciptakan sistem pendidikan yang menghargai keanekaragaman, tidak diskriminatif, serta pembelajaran yang ramah terhadap semua anak.
2. Siswa Slow Learner
Anak yang mempunyai skor IQ antara 70 sampai 89 digolongkan kedalam kelompok anak lambat belajar (Marthan, 2007: 49). Siswa slow learner merupakan salah satu jenis ABK di SD Inklusi. Istilah slow learner seringkali dipakai untuk seorang anak yang tidak bias belajar dengan baik di sekolah. Skor IQ yang rendah seringkali dianggap telah cukup untuk menjelaskan kurang berkembangnya seorang anak dalam hal belajar. (Smith, 2006: 68).
Siswa slow learner memiliki keterbatasan perhatian terhadap pelajaran, kekurangan kemampuan untuk memahami prinsip dan konsep secara komprehensif, tidak memahami ide dan hubungan matematis, serta tidak mampu mengimplementasikan ide dalam konteks yang berbeda. Jadi siswa slow learner membutuhkan banyak pengulangan untuk memahami materi di kelas.
Pengertian lain tentang slow learner adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Learning Disabilitas atau ketidak mampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar di bawah intelektualnya. http://roman-makalah.blogsopot.com/2008/07/kesulitan-belajar-siswa-dan-bimbingan.html, diambil pada 13 Januari 2009.
Peneliti berpendapat bahwa siswa slow learner adalah siswa dengan tingkat kecepatan belajar lebih rendah dibanding siswa sebaya, belajar hanya sampai tingkat hafalan, pola kemajuan akademik lamban, perkembangan mental lebih rendah dibanding dengan perkembangan usianya, memiliki keterbatasan perhatian terhadap pembelajaran, kekurangan kemampuan untuk memahami prinsip dan konsep secara komprehensif dan membutuhkan banyak pengulangan untuk memahami materi di kelas. Dengan demikian siswa slow learner menuntut pendampingan khusus oleh guru, konselor, atau pihak sekolah.

3. Pembelajaran Matematika
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2).
Prof. Dr. Mohmad Surya (2004: 7) mengartikan pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan linkungannya
Menurut Endang Susetyawati dan Sumaryanto(2005 : 31) pembelajaran merupakan sebagai proses belajar matematika oleh siswa dengan bantuan pendampingan guru. Dalam pembelajaran metematika yang abstrak siswa memerlukan alat bantu berupa mediayang dapat memperjelas materi yang disampaikan.
Berdasarkan beberapa pengertian pembelajaran tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dapat diartikan sebagai proses belajar matematika oleh siswa dengan bantuan pendampingan guru. Guru sebagai fasilitator dan dinamisator kegiatan belajar oleh siswa.

4. Pembelajaran Matematika di SD Inklusi
Bruner (Ruseffendi, 1991) dalam Heruman (2007:4) menggemukakan bahwa dalam pembelajaran matematika, siswa harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukan. ’Menemukan’ disini terutama adalah ’menemukan lagi’ (discovery), atau dapat juga yang menemukan yang sama sekali baru (invention). Oleh karena itu, kepada siswa materi disajikan bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya. Dalam pembelajaran, guru harus lebih banyak berperan sebagai pembimbing dibandingkan sebagai pemberitahu.
Berdasarkan berbagai pendapat diatas peneliti berpendapat bahwa pembelajaran matematika adalah proses interaksi belajar dan mengajar matematika antara peserta didik dan pendidik yang melibatkan segenap aspek didalamnya untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan pembelajaran matematika di SD Inklusi itu sendiri dalam pelaksanaanya peserta didik terdiri dari siswa reguler dan siswa slow learner, pedidiknya terdiri dari guru kelas, guru bidang studi, dan guru pembimbing khusus (GPK) yang tentunya khusus melayani anak–anak berkebutuhan khusus.
Proses pembelajaran matematika di SD inklusi dilaksanakan oleh guru kelas dengan dibantu guru pendamping khusus (GPK). Guru kelas adalah guru yang diberi tanggung jawab dan wewenang mengajar di suatu kelas dan mengampu hampir semua mata pelajaran yang diajarkan. Hanya beberapa mata pelajaran saja yang mungkin dibantu pengajarannya guru lain, misalkan pelajaran agama atau olah raga. Dengan demikian, mata pelajaran matematika di kelas inklusi juga diampu oleh guru kelas tersebut. Sedangkan GPK adalah guru yang didatangkan dari pendidikan khusus yang khusus melayani siswa ABK. GPK merupakan patner guru kelas dan guru bidang studi dalam upaya melayani anak berkebutuhan khusus agar potensi yang dimiliki berkembang optimal.

B. Kerangka Berfikir
Hidup dengan kekurangan bukan berarti tidak berkesempatan untuk maju. Bagi anak-anak slow learner, bersaing secara akademik dengan anak normal pada kenyataanya merupakan hal yang sangat sulit. Mereka harus dilatih khusus agar dapat mengikuti proses belajar di sekolah umum. Kebanyakan masyarakat menganggap dua kata tersebut identik dengan idiot atau keterbelakangan mental.
Tes intelegensi yang menghasilkan IQ (Intelligence Quotien), merupakan salah satu alat yang digunakan untuk mendeteksi kemampuan anak, khususnya dibidang akademik. Pembelajaran di sekolah sangat menuntut ketrampilan kognitif. Ketrampilan kognitif dapat diketahui dari hasil tes intelegensi yang menghasilkan IQ. Anak yang memperoleh skor IQ antara 70 hingga 89 digolongkan kedalam kelompok anak lambat belajar (slow learner). Anak yang tergolong lambat belajar masih dapat mengikuti program pembelajaran reguler pada jenjang pendidikan dasar tetapi membutuhkan bantuan yang intensif.
Sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung siswa normal dan ABK di kelas yang sama. Berdasarkan hasil observasi selama proses pembelajaran di SD Negeri Siyono Gunung Kidul, salah satu jenis ABK pada Sekolah Inklusi disini adalah siswa slow learner. Namun kenyataan yang terjadi, masyarakat pada umumnya belum mengetahui keberadaan sekolah inklusi dengan semua program-programnya dan cenderung memberikan perlakuan negatif terhadap ABK (slow learner). Dengan dilakukan identifikasi diharapkan dapat memberikan sosialisasi lebih lanjut tentang sekolah inklusi & ABK sehingga tidak terjadi penolakan terhadap ABK baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun lingkungan sekolah yang kondisinya heterogen. Sehingga mereka dapat hidup beriringan layaknya dengan anak normal pada umumnya.
Read More..
BAB III
METODE PENELITIAN


A. Subjek dan objek penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Siyono I, dan objek penelitiannya adalah proses pembelajaran matematika bagi siswa slow learmer.

B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juli sampai bulan oktober 2008 dan bertempat di SD Negeri Siyono I Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.

C. Jenis Pendekatan Penelitian
Penelitian deskriptif kualitatif merupakan suatu penelitian yang ditujukan untuk mendiskripsikan dan menganalis fenomena, peristiwa, pesepsi, pemikiran orang secara kelompok. Data dihimpun dalam konteks yang mendetail disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen dan catatan-catatan.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang memaparkan penelitian lapangan untuk memberikan informasi atau gambaran tentang proses pembelajaran matematika di SD inklusi dengan siswa slow learner pada kelas III SD Siyono I Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta.
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Hasil Observasi
Observasi ini ada tiga pengamatan yaitu hasil atau tindakan yang dikenakan oleh siswa regular, siswa slow learner dan guru kelas selama proses pembelajaran matematika di kelas.
2. Hasil Wawancara
Wawancara ini dilakukan dengan tatap muka secara langsung. Wawancara yang digunakan yaitu wawancara kepala sekolah, wawancara guru kelas, wawancara guru pembimbing khusus, wawancara siswa regular, wawancara siswa slow learner.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu metode untuk memperoleh atau mengetahui sesuatu dengan melihat buku-buku, arsip-arsip, data catatan yang berhubungan dengan yang di teliti.
Dokumentasi yang digunakan penelitian ini yaitu metode observasi dan metode wawancara. Metode tersebut adalah dengan pengumpulan dokumen silabus, rencana proses pembelajaran (RPP), dan rekaman foto.

E. Instrumen Penelitian
Intrumen penelitian merupakan alat bantu yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian terdiri dari dua macam yaitu:
1. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk memonitor setiap observasi dari konteks permasalahan penelitian. Yang digunakan dalam observasi penelitian ini yaitu observasi siswa normal, siswa slow learner, dan guru dalam mengajar di kelas.
2. Pedoman Wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara terstruktur. Jadi pewawancara sudah mempersiapkan bahan wawancara terlebih dahulu dalam melakukan wawancara kepada siswa normal, siswa slow learner, guru kelas, guru pembimbing khusus, dan kepala sekolah.

F. Teknik Analisis Data
Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Analisis deskritif merupakan cara menganalisa data informasi dan fakta-fakta yang di peroleh dari data observasi dan wawancara untuk dapat merumuskan kesimpulan dengan menggunakan data non statistic. Jadi menganalisa data dengan kata-kata atau kalimat untuk memperoleh kesimpulan yang jelas.
Read More..

Selasa, 27 Januari 2009

Lelucon Lorong Kehidupan

Suatu kehidupan adalah proses. Pikiran dan perasaan menemani jalan tatkala kita menusuri lorong-lorong kehidupan. Tak ada kata berhenti dalam kita mencari lilin-lilin penerang. Bahkah kita bisa terjatuh, saat itulah baru kita sadari betapa pentingnya uluran tangan Sang Pencipta. Manusia mempunyai lorong-lorong tersendiri dalam menuju klimaks kehidupan. Karena lorong-lorong itu telah ada sebelum manusia itu diciptakan. Ada lorong yang sempit dan gelap ada juga lorong yang lebar dan terang. Tergantung lilin-lilin yang mereka bawa dalam perjalanan . Bahkan Manusia membutuhkan lelucon untuk menghibur jiwa-jiwa mereka yang letih.
Siapakah Aku?
Mengapa aku dalam lorong ini?
Untuk apakah ini semua?
Jadi kita hanya bisa berbagi kepada sesama tentang lelucon-lelucon lorong kehidupan, karena lorong-lorong itu tidak sama dan lelucon itu pasti beda. Read More..